tes darah untuk anak

untuk diagnosis penyakit-penyakit umum semisal batuk pilek memang tak memerlukan pemeriksaan darah. Kecuali bila dokter mencurigai ada penyakit/gangguan tertentu yang “terbaca” lewat gejala-gejala lain. Selain batuk pilek, contohnya, anak terlihat amat pucat atau mengalami demam disertai mimisan yang cukup banyak dan terjadi hampir terus-menerus. Menghadapi kasus seperti ini, tentu patut dicek apakah ada gangguan pembekuan darah atau gangguan serius lainnya.

Bila gejala menunjukkan penyakit tertentu, namun hasil tes darah menunjukkan penyakit yang berbeda, amat dianjurkan untuk dilakukan observasi ataupun pengulangan pemeriksaan darah beberapa hari kemudian untuk kepastian lebih lanjut.

MANFAAT TES DARAH:

* Memastikan penyakit,

* Menegakkan atau bahkan “menggugurkan” diagnosis awal.

* Memonitor “perkembangan” penyakit yang sudah terdeteksi.

* Memastikan sudah seberapa jauh suatu penyakit mengganggu fungsi ginjal dan organ-organ penting lainnya.

* Mengetahui bagaimana kondisi ginjal dan hati pasien guna “menghitung” obat apa saja dan seberapa dosis yang bisa diberikan.

* Bagi pasien yang hendak menjalani operasi, pemeriksaan darah merupakan persyaratan medis untuk mengetahui bagaimana fungsi pembekuan darah dalam tubuh pasien. Kadar hemoglobin (Hb), contohnya, tidak boleh kurang dari 10 g/dl. Bila kadar Hb jauh dari angka normal, dikhawatirkan pembiusan yang akan dijalankan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, semisal kekurangan oksigen yang bisa berakibat fatal.

* Dari pemeriksaan darah, fungsi pembekuan darah pasien juga bisa diketahui apakah baik atau tidak. Fungsi pembekuan darah yang kurang baik tentu akan menyulitkan jalannya operasi.

LOKASI PENGAMBILAN CONTOH DARAH

Metode pengambilan darah lazimnya akan disesuaikan dengan kebutuhan pengambilan darah itu sendiri; apakah kadar hemoglobin, faktor pembekuan darah, trombosit, dan sebagainya. Berdasarkan lokasinya, ada beberapa metode pemeriksaan darah terhadap pasien, di antaranya:

* Sample darah pasien diambil lewat pembuluh darah vena di lengan. Ini proses pengambilan contoh darah yang paling umum dilakukan dan hasilnya diyakini paling akurat.

* Contoh darah diambil di bagian ujung jari tangan. Hasilnya juga cukup akurat, khususnya bila dilakukan hanya untuk mengetahui kadar gula darah dalam tubuh. Proses pengambilannya cukup dengan menusukkan jarum disertai bantuan berupa pemencetan secara perlahan-lahan agar darah keluar segera. Sayangnya, kadar oksigen di ujung jari berbeda dengan kadar oksigen dalam pembuluh darah vena, sehingga kadang membuat hasilnya “berbeda”.

* Contoh darah diambil pada bagian daun telinga. Ini dilakukan terutama untuk mengetahui faktor pembekuan darah.

SEBERAPA BANYAK?

Seberapa banyak sih darah yang diambil? Tentu berbeda tergantung pada tujuan pemeriksaan itu sendiri. Bila hanya untuk mengetahui kadar hemoglobin, maka contoh darah yang dibutuhkan relatif sedikit, hanya sebanyak 2 mg/dl. Akan tetapi bila poin-poin yang hendak diperiksa jauh lebih banyak dan lebih lengkap, misalnya ingin mengetahui fungsi hati atau fungsi ginjal, maka contoh darah yang perlu diambil sebanyak 5-10 mg/dl.

BERAPA LAMA HASILNYA?

Mengenai kapan hasilnya bisa diketahui, tentu beragam pula. Untuk pemeriksaan sederhana, semisal kadar hemoglobin, leukosit atau trombosit, cukup menunggu beberapa jam. Namun bila pemeriksaan lengkap, kemungkinan besar hasilnya baru bisa diketahui keesokan hari. Contohnya, pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi hati, ginjal dan sebagainya. Sedangkan untuk pemeriksaan kultur darah bukan tidak mungkin malah membutuhkan waktu lebih lama, kira-kira seminggu. Contohnya, untuk mencari tahu kuman jenis apa yang menyebabkan demam pasien tak kunjung reda, sekaligus untuk mengetahui kuman tersebut sensitif atau resisten terhadap obat apa saja. Jadi, orangtua mesti menanyakan kepada petugas laboratorium kapan hasil pemeriksaan darah selesai.

PERLU PERSIAPAN TERTENTU?

Persiapan khusus menghadapi pemeriksaan darah sebenarnya tak ada. Kecuali bila yang mau diperiksa adalah kadar gula darah, yang mengharuskan pasien puasa lebih dulu selama sekian jam. Begitu juga untuk memeriksa kadar kolestrol. Namun, pemeriksaan jenis ini jarang dilakukan pada anak-anak.

Yang pasti, dokter yang merekomendasikan pemeriksaan darah pasien sebaiknya menjelaskan pada keluarga pasien untuk apa pemeriksaan darah itu dilakukan. Selain penjelasan apakah harus segera dilaksanakan atau bisa ditunda 2-3 hari kemudian sambil mengikuti perkembangan kondisi pasien. Misalnya, terhadap anak yang mengalami demam tinggi. Kalau dalam 1-2 hari setelah mendapat obat tertentu, demam tak kunjung reda, sebaiknya segera periksakan darahnya.

Adapun kendala yang paling sering ditemui ketika pasien anak harus menjalani pemeriksaan darah adalah bagaimana caranya membujuk mereka agar kooperatif. Bisa dimaklumi bila anak umumnya takut melihat jarum suntik. Belum lagi ketika tahu betapa sakitnya ditusuk jarum yang agak besar karena darah yang diambil cukup banyak lantaran ada banyak aspek yang ingin diketahui lewat pemeriksaan tersebut.

Masalahnya, tidak sedikit pula orangtua yang juga “takut” melihat jarum suntik ataupun keluarnya darah. Padahal sebelum dan selama pengambilan darah sebaiknya tetap ada pendampingan dari orang yang memiliki kedekatan emosional dengan anak, apakah ayah, ibu atau anggota keluarga lainnya.

Pendampingan ini amat perlu untuk meminimalkan ketegangan anak menghadapi proses yang menakutkan itu, disamping suasana dan petugas medis yang merupakan sosok asing baginya.

Pendampingan tersebut bisa dilakukan dengan sekadar menemani, memangku, memeluk atau meyakinkan bahwa proses pengambilan darah itu penting agar penyebab penyakitnya se-gera ketahuan dan ia bisa cepat sembuh. Yang pasti, jangan pernah membohongi anak dengan mengatakan tak sakit. Lebih baik katakan sakit sedikit seperti dicubit, namun cuma sebentar. Intinya, anak perlu diberi tahu sebelum proses pengambilan contoh darah dimulai. Di usia sekolah dasar, anak pastilah sudah bisa menangkap penjelasan hingga bisa diajak bersikap kooperatif.

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah keingintahuan yang mendalam dari pihak orangtua untuk mengetahui apa tujuan pemeriksaan tersebut pada dokter yang merekomendasikan. Begitu juga setelah mendapatkan hasilnya, jangan lupa untuk menanyakan bagaimana kondisi penyakit anak, tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter selanjutnya dengan membaca hasil lab tadi dan sebagainya. Dengan demikian, kurang bijak bila orangtua bersikap “sok tahu” dengan menafsirkan sendiri hasil tes yang didapat.

Sumber : Kompas.com

Tinggalkan komentar

Filed under anak-anak

maaf, blog ini sudah pindah

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s