Arsip

Posts Tagged ‘anak-anak’

Masalah Anak

Hari ini si kecil minta dibelikan sepeda seperti milik temannya, esok merengek ingin dibelikan mobil-mobilan, dan setiap kali habis melihat iklan makanan/minuman di teve, dia berujar, “Ma, aku mau beli yang kayak gitu, dong!” Pusing, kan?

Jelas, perilaku seperti itu tak baik bagi anak. Jika segala kehendaknya dituruti, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang amat konsumtif, manja, dan tak mengerti azas prioritas. Apa yang harus kita lakukan?

* Beri penjelasan
Jelaskan kepada mereka alasan Anda membeli suatu benda. Katakan pada anak, barang tersebut memang Anda perlukan, bukan karena Anda ingin pamer. Jangan takut untuk membicarakan mengenai uang. Bila Anda tidak mampu membelikan barang permintaannya, katakan dengan terus terang.

* Batasi teve
Batasi menonton teve. Pesan yang disampaikan oleh iklan sering menyesatkan cara berpikir anak-anak. Bantu anak Anda dalam mengartikan pesan yang disampaikan oleh iklan-iklan di televisi.

* Ajak Berkegiatan
Ajak anak menyukai hal-hal yang bukan berupa benda. Lakukan kegiatan yang melibatkan seluruh keluarga semisal naik sepeda, jalan pagi, main tenis atau scrabble. Lakukan kegiatan yang menggunakan pikiran dan semangat, tanpa perlu mengeluarkan biaya yang besar.

* Jauhi sifat konsumtif
Bila Anda tidak mampu, jangan memaksakan diri menyelenggarakan pesta ulang tahun yang mengeluarkan biaya besar. Buat persetujuan keluarga dalam menentukan biaya untuk membeli kado seperti kado ulang tahun, hadiah Lebaran atau Natal.

* Ajari mengatur uang
Beri anak uang saku dan bantu mereka mengatur keuangan. Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak usia 9-14 tahun, terlihat, anak yang mendapat uang saku lebih dapat menghemat dari pada anak-anak yang tidak mendapatkan uang saku.

Tidak ada angka yang tepat, berapa jumlah yang harus diberikan, tetapi tujuannya adalah untuk tidak memenuhi segala sesuatu yang diinginkan oleh anak serta membuat anak mengerti bahwa mereka dapat menggunakan uang sakunya sendiri untuk membeli segala sesuatu yang diinginkannya. Hal ini membuat mereka mengerti bahwa benda tertentu mahal harganya dan tidak sanggup untuk mereka beli dan yang pasti mereka menjadi lebih dapat menghargai uang.

* Jangan dimanjakan
Jangan tunjukkan cinta melalui benda. Membiasakan memanjakan anak-anak dengan benda, hanya akan membentuk anak menjadi konsumtif. Yakinkan anak bahwa mereka dicintai sebagaimana apa adanya mereka.

Sumber : kompas.com

Categories: anak-anak Tag:

Minta Maaf pada Anak

Menjadi orangtua bukan berarti selalu benar dalam bersikap. Tak jarang, orangtua juga melakukan kesalahan pada anak, sehingga membuat hubungan terganggu. Inilah cara meminta maaf pada anak tanpa membuat Anda harus kehilangan wibawa di depannya.
1. Mengaku bersalah
Sadari bahwa Anda telah membuat kesalahan, dan akui itu padanya. Inilah salah satu faktor penting dalam meminta maaf. Tak jarang ini sulit dilakukan, karena orangtua merasa gengsi. Lupakan gengsi, kalau memang tak ingin masalah terus berlarut.

2. Tulus
Ketika meminta maaf, Anda harus tulus. Anak akan gampang mengetahui ketika Anda membohonginya tentang hal ini.

3. Tenang
Meminta maaf dalam keadaan emosi akan percuma. Kalau Anda belum bisa bersikap tenang, katakan padanya bahwa Anda butuh waktu untuk sendiri, sebelum melanjutkan pembicaraan dengannya. Kemudian, pikirkan apa yang terjadi dan apa penyebabnya agar pikiran jadi tenang.

4. Tepat sasaran
Katakan permintaan maaf Anda secara langsung dan dalam kalimat yang tidak berbelit-belit. Ingat, yang dimintakan maaf adalah sikap Anda yang baru saja terjadi, bukan kepribadian Anda. Misalnya, mintalah maaf atas kemarahan dan ucapan Anda yang kasar, bukan atas kepribadian Anda yang emosional.

5. Jangan menyalahkan
Jangan balik menyalahkan anak hanya untuk membenarkan sikap Anda. Misalnya, dengan mengatakan bahwa seandainya ia tidak malas, Anda tidak akan marah terus padanya. Ini sama saja Anda tidak meminta maaf, melainkan justru menyalahkannya.

6. Meminta maaf
Mengatakan bahwa Anda bersalah dan bertanya apakah ia mau memaafkannya akan mempermudah Anda mengungkapkan penyesalan, sekaligus membuat anak belajar memahami cara memperbaiki hubungan.

7. Evaluasi
Bersama anak, lihat kembali bagaimana Anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik, dan sepakati cara yang akan dilakukan bila masalah yang sama terjadi lagi nanti.

8. Lupakan
Bagaimanapun juga, Anda hanya seorang manusia, yang tentu tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Namun, jangan terus berkutat pada rasa bersalah Anda. Setelah meminta maaf, lupakan masalah tersebut dan berusahalah untuk tidak mengulanginya lagi, sama seperti ketika Anda memintanya tidak mengulang kesalahan.

9. Jangan berlebihan
Berlebihan dan selalu meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, justru akan membuat Anda kehilangan wibawa. Mintalah maaf karena Anda memang bersalah, bukan karena Anda berusaha menerapkan disiplin atau hukuman yang terbilang wajar, atas kesalahannya

Sumber : Kompas.com

Categories: anak-anak Tag:

Buang Angin

KENTUT memang bukan sembarang angin. Semua orang pasti mengalaminya, sejak kanak-kanak sampai dewasa. Kentut sebenarnya merupakan pengeluaran gas yang berlebihan dari dalam usus melalui anus, dan umumnya menjelang buang air besar (BAB).

Banyak faktor yang menentukan frekuensi maupun volume kentut seseorang. Di antaranya pola makan dan obat-obatan tertentu, jenis antibiotik. Perihal berapa kali seorang anak kentut dalam sehari memang belum terdata. Namun frekuensi buang angin sekitar 14 kali dalam sehari masih dianggap normal. Sedangkan volume angin yang diproduksi setiap individu dalam kondisi normal diperkirakan bervariasi antara 4001.600 ml per hari.

Dari usus

Bagaimana kentut terjadi? Seperti kita ketahui, proses pencernaan dan penyerapan makanan terjadi dalam usus halus. Makanan yang tidak bisa dicerna dan diserap tubuh akan dibuang ke usus besar (kolon). Sisa-sisa makanan yang ada dalam usus besar ini merupakan makanan bagi bakteri penghuni usus. Di dalam usus besar ini pula terjadi proses fermentasi yang antara lain membentuk sejumlah gas.

Mengacu pada proses tersebut, bisa dimaklumi bila jenis makanan yang dikonsumsi menentukan produksi gas dalam usus. Semakin banyak seseorang mengonsumsi jenis makanan yang tidak dapat dicerna, semakin meningkat pula proses fermentasi oleh bakteri. Akibatnya, produksi gas pun mengalami peningkatan. Jenis gas yang diproduksi dalam usus antara lain karbondioksida (CO2), hidrogen (H2) dan metan. Kendati ada pula sumber gas dalam usus yang berasal dari udara luar, seperti nitrogen (N2) dan oksigen (O2). Udara luar ini dapat ikut tertelan akibat aktivitas makan yang tidak benar. Yakni kebiasaan mengunyah permen karet, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, dan sebagainya.

Aroma tak sedap

Pada dasarnya tidak semua kentut mengeluarkan bau tak sedap. Angin yang satu ini bisa menjadi bau akibat adanya proses pembusukan oleh metabolisme bakteri di usus besar. Bau tak sedap yang mungkin timbul bisa juga berupa bau asam akibat mengonsumsi makanan yang tidak sesuai kemampuan organ pencernaannya. Selain itu, makanan berbau tajam, seperti petai, durian nangka dan cempedak juga dapat menyebabkan kentut berbau.

Kentut yang tidak berbau lazimnya terdiri atas 5 komponen gas, yakni gas nitrogen, oksigen, hidrogen, metan dan karbondioksida. Kelima gas inilah yang merupakan porsi terbesar dalam kentut. Sedangkan kentut yang bau umumnya merupakan campuran gas-gas yang berbau, seperti skatol, indol, hidrogen sulfida, dan asam lemak rantai pendek. Gas-gas ini walaupun terdapat dalam jumlah kecil mampu menimbulkan bau yang menusuk hidung.

Kalau keseringan

Jika anak keseringan kentut, kemungkinan inilah penyebabnya:

* Mengalami intoleransi laktosa (tidak dapat mencerna laktosa yang terkandung dalam susu) yang mengakibatkan produksi gas jadi berlebihan. Hal ini biasanya disertai dengan keluhan sakit perut. Solusinya, hindari bahan makanan yang mengandung susu/laktosa.

* Kesalahan dalam pemberian makan. Maksudnya, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tak dapat dicerna secara tuntas oleh usus. Akibatnya, banyak sisa makanan yang dihasilkan, seperti selulosa (serat), stakiosa, dan rafinosa. Selulosa merupakan dinding sel tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat pada bahan makanan yang berasal dari sayuran. Sedangkan stakiosa dan rafiosa banyak terdapat pada kacang merah. Semakin banyak makanan mengandung bahan yang tidak dapat dicerna usus, semakin banyak juga gas yang diproduksi akibat peningkatan fermentasi oleh bakteri.

* Menangis berlebihan. Saat menangis ada kemungkinan udara ikut masuk melalui mulut. Karenanya, menangis yang berle-bihan juga dapat menyebabkan anak sering kentut.

* Pemberian antibiotik yang tidak tepat/berlebihan.Akibatnya flora normal usus akan mati yang mengakibatkan pertumbuhan kuman patogen dan fermentasi makanan oleh bakteri yang berlebihan.

* Bakteri yang tumbuh berlebihan dalam usus. Ini kerap terjadi pada kasus-kasus diare kronik yang disebabkan oleh parasit jenis tertentu.

* Pengeluaran gas dari darah yang dikenal dengan istilah difusi. Selama proses difusi ini gas tertentu seperti CO2 dikeluarkan ke lambung, N2 ke usus halus dan usus besar, O2 ke usus besar. Adanya tambahan gas dari peredaran darah ke dalam usus ini dapat meningkatkan jumlah gas dalam usus yang kemudian dikeluarkan sebagai kentut.

Untuk mengurangi frekuensi kentut yang berlebihan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, kenali atau cari tahu penyebabnya. Langkah selanjutnya tentu saja dengan menghindari penyebab tersebut. Bila akibat pola makan yang salah, seperti terlalu banyak mengonsumsi serat, mau tidak mau kurangi saja jumlah serat yang dikonsumsi. Demikian pula bagi anak yang memang intoleransi terhadap laktosa. Sebaiknya hindari susu dan produk olahannya. Sebagai penggantinya, yang bersangkutan bisa mengonsumsi yoghurt. Akan tetapi bila penyebabnya sudah dihindari dan frekuensi kentut dirasa masih berlebihan, tak ada cara lain kecuali berkonsultasi dengan dokter. Dokter biasanya akan meresepkan obat yang dapat menyerap kelebihan gas di usus. Tentu saja pemakaiannya harus seizin dokter atau mencari penyebab lainnya.

Sumber : Kompas.com

Categories: anak-anak Tag:

tes darah untuk anak

untuk diagnosis penyakit-penyakit umum semisal batuk pilek memang tak memerlukan pemeriksaan darah. Kecuali bila dokter mencurigai ada penyakit/gangguan tertentu yang “terbaca” lewat gejala-gejala lain. Selain batuk pilek, contohnya, anak terlihat amat pucat atau mengalami demam disertai mimisan yang cukup banyak dan terjadi hampir terus-menerus. Menghadapi kasus seperti ini, tentu patut dicek apakah ada gangguan pembekuan darah atau gangguan serius lainnya.

Bila gejala menunjukkan penyakit tertentu, namun hasil tes darah menunjukkan penyakit yang berbeda, amat dianjurkan untuk dilakukan observasi ataupun pengulangan pemeriksaan darah beberapa hari kemudian untuk kepastian lebih lanjut.

MANFAAT TES DARAH:

* Memastikan penyakit,

* Menegakkan atau bahkan “menggugurkan” diagnosis awal.

* Memonitor “perkembangan” penyakit yang sudah terdeteksi.

* Memastikan sudah seberapa jauh suatu penyakit mengganggu fungsi ginjal dan organ-organ penting lainnya.

* Mengetahui bagaimana kondisi ginjal dan hati pasien guna “menghitung” obat apa saja dan seberapa dosis yang bisa diberikan.

* Bagi pasien yang hendak menjalani operasi, pemeriksaan darah merupakan persyaratan medis untuk mengetahui bagaimana fungsi pembekuan darah dalam tubuh pasien. Kadar hemoglobin (Hb), contohnya, tidak boleh kurang dari 10 g/dl. Bila kadar Hb jauh dari angka normal, dikhawatirkan pembiusan yang akan dijalankan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, semisal kekurangan oksigen yang bisa berakibat fatal.

* Dari pemeriksaan darah, fungsi pembekuan darah pasien juga bisa diketahui apakah baik atau tidak. Fungsi pembekuan darah yang kurang baik tentu akan menyulitkan jalannya operasi.

LOKASI PENGAMBILAN CONTOH DARAH

Metode pengambilan darah lazimnya akan disesuaikan dengan kebutuhan pengambilan darah itu sendiri; apakah kadar hemoglobin, faktor pembekuan darah, trombosit, dan sebagainya. Berdasarkan lokasinya, ada beberapa metode pemeriksaan darah terhadap pasien, di antaranya:

* Sample darah pasien diambil lewat pembuluh darah vena di lengan. Ini proses pengambilan contoh darah yang paling umum dilakukan dan hasilnya diyakini paling akurat.

* Contoh darah diambil di bagian ujung jari tangan. Hasilnya juga cukup akurat, khususnya bila dilakukan hanya untuk mengetahui kadar gula darah dalam tubuh. Proses pengambilannya cukup dengan menusukkan jarum disertai bantuan berupa pemencetan secara perlahan-lahan agar darah keluar segera. Sayangnya, kadar oksigen di ujung jari berbeda dengan kadar oksigen dalam pembuluh darah vena, sehingga kadang membuat hasilnya “berbeda”.

* Contoh darah diambil pada bagian daun telinga. Ini dilakukan terutama untuk mengetahui faktor pembekuan darah.

SEBERAPA BANYAK?

Seberapa banyak sih darah yang diambil? Tentu berbeda tergantung pada tujuan pemeriksaan itu sendiri. Bila hanya untuk mengetahui kadar hemoglobin, maka contoh darah yang dibutuhkan relatif sedikit, hanya sebanyak 2 mg/dl. Akan tetapi bila poin-poin yang hendak diperiksa jauh lebih banyak dan lebih lengkap, misalnya ingin mengetahui fungsi hati atau fungsi ginjal, maka contoh darah yang perlu diambil sebanyak 5-10 mg/dl.

BERAPA LAMA HASILNYA?

Mengenai kapan hasilnya bisa diketahui, tentu beragam pula. Untuk pemeriksaan sederhana, semisal kadar hemoglobin, leukosit atau trombosit, cukup menunggu beberapa jam. Namun bila pemeriksaan lengkap, kemungkinan besar hasilnya baru bisa diketahui keesokan hari. Contohnya, pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi hati, ginjal dan sebagainya. Sedangkan untuk pemeriksaan kultur darah bukan tidak mungkin malah membutuhkan waktu lebih lama, kira-kira seminggu. Contohnya, untuk mencari tahu kuman jenis apa yang menyebabkan demam pasien tak kunjung reda, sekaligus untuk mengetahui kuman tersebut sensitif atau resisten terhadap obat apa saja. Jadi, orangtua mesti menanyakan kepada petugas laboratorium kapan hasil pemeriksaan darah selesai.

PERLU PERSIAPAN TERTENTU?

Persiapan khusus menghadapi pemeriksaan darah sebenarnya tak ada. Kecuali bila yang mau diperiksa adalah kadar gula darah, yang mengharuskan pasien puasa lebih dulu selama sekian jam. Begitu juga untuk memeriksa kadar kolestrol. Namun, pemeriksaan jenis ini jarang dilakukan pada anak-anak.

Yang pasti, dokter yang merekomendasikan pemeriksaan darah pasien sebaiknya menjelaskan pada keluarga pasien untuk apa pemeriksaan darah itu dilakukan. Selain penjelasan apakah harus segera dilaksanakan atau bisa ditunda 2-3 hari kemudian sambil mengikuti perkembangan kondisi pasien. Misalnya, terhadap anak yang mengalami demam tinggi. Kalau dalam 1-2 hari setelah mendapat obat tertentu, demam tak kunjung reda, sebaiknya segera periksakan darahnya.

Adapun kendala yang paling sering ditemui ketika pasien anak harus menjalani pemeriksaan darah adalah bagaimana caranya membujuk mereka agar kooperatif. Bisa dimaklumi bila anak umumnya takut melihat jarum suntik. Belum lagi ketika tahu betapa sakitnya ditusuk jarum yang agak besar karena darah yang diambil cukup banyak lantaran ada banyak aspek yang ingin diketahui lewat pemeriksaan tersebut.

Masalahnya, tidak sedikit pula orangtua yang juga “takut” melihat jarum suntik ataupun keluarnya darah. Padahal sebelum dan selama pengambilan darah sebaiknya tetap ada pendampingan dari orang yang memiliki kedekatan emosional dengan anak, apakah ayah, ibu atau anggota keluarga lainnya.

Pendampingan ini amat perlu untuk meminimalkan ketegangan anak menghadapi proses yang menakutkan itu, disamping suasana dan petugas medis yang merupakan sosok asing baginya.

Pendampingan tersebut bisa dilakukan dengan sekadar menemani, memangku, memeluk atau meyakinkan bahwa proses pengambilan darah itu penting agar penyebab penyakitnya se-gera ketahuan dan ia bisa cepat sembuh. Yang pasti, jangan pernah membohongi anak dengan mengatakan tak sakit. Lebih baik katakan sakit sedikit seperti dicubit, namun cuma sebentar. Intinya, anak perlu diberi tahu sebelum proses pengambilan contoh darah dimulai. Di usia sekolah dasar, anak pastilah sudah bisa menangkap penjelasan hingga bisa diajak bersikap kooperatif.

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah keingintahuan yang mendalam dari pihak orangtua untuk mengetahui apa tujuan pemeriksaan tersebut pada dokter yang merekomendasikan. Begitu juga setelah mendapatkan hasilnya, jangan lupa untuk menanyakan bagaimana kondisi penyakit anak, tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter selanjutnya dengan membaca hasil lab tadi dan sebagainya. Dengan demikian, kurang bijak bila orangtua bersikap “sok tahu” dengan menafsirkan sendiri hasil tes yang didapat.

Sumber : Kompas.com

Categories: anak-anak Tag: