Arsip

Archive for the ‘anak-anak’ Category

Anak Cerdas Bukan Karena Keturunan

Saya baca judul ini di Kompas.com, ternyata anggapan kalau anak yang cerdas diturunkan oleh orang tua yang cerdas itu salah, memang sih kebanyakan kalo orang tua nya cerdas, trus jadi guru atau dosen gitu anaknya cenderung cerdas, tapi ternyata anggapan itu salah karena faktor genetis menyumbang kecerdasan anak itu hanya sekitar 40 – 80%.
Untuk mencetak anak yang cerdas dan kreatif bisa dengan memberikan gizi dan stimulasi yang tepat.
Perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi dan nutrisi yang diberikan kepada anak waktu pertumbuhan perkembangan otaknya yaitu saat usia sampai dengan 3 tahun dan sempurna saat anak usia 5 tahun.
Oleh karena itu bayi dan balita sangat membutuhkan protein , karbohidrat dan lemak Selain itu bayi dan balita membutuhkan vitamin B1, B6, asam folat, yodium, zat besi, seng, AA, DHA, sphyngomyelin (kompleks lipid kandungan lemak di otak), sialic acid, dan asam-asam amino seperti tyrosine dan tryptophan.
Selain gizi diperlukan juga stimulasi yang tepat untuk merangsang perkembangan otak, rangsangan yang diberikan dengan kasih sayang akan melipatgandakan jumlah hubungan antar sel pada otak anak. anak dapat diajak ke tempat yang bervariasi, diajak bermain, memberikan fasilitas penunjang kecerdasan seperti buku, alat musik, halaman untuk bermain, dan ynag pasti adanya stimulasi berupa pendidikan dan pelatihan terutama yang sesuai dengan minat anak.

Lebaran Tanpa Mudik

Lebaran memang sudah lama berlalu, tapi baru kali ini bisa ada waktu luang update blog ini, memang ada keinginan untuk selalu on ngisi blog ini, tapi waktu lah yang belum bisa kompromi.

Baru lebaran kali ini saya tidak mudik ke kampung halaman, Alhamdulillah kemarin di akhir bulan ramadhan kami mendapat anugrah yang tiada tara dengan adanya si kecil yang lahir di akhir ramadhan.

Ramadhan kemarin memang penuh dengan harap-harap cemas menunggu kedatangan si buah hati, ketika hitungan hari sudah masuk hitungan untuk melahirkan tambah panik ketika dokter bilang harus melahirkan sebelum lebaran, soalnya kalo sampai lebaran nggak melahirkan umur kandungan sudah lebih dari 40 minggu, lahir sebelum waktunya nggak boleh, lahir lewat waktu juga bahaya, waduh bisa berabe nih…

Mbahnya calon si kecil sudah nungguin dari pertengahan puasa, udah 2 minggu koq nggak lahir-lahir, tetangga sudah pada nanyain semua, “koq belum lahir mbak?” yaa memang belum mau keluar nih mungkin masih betah didalam perut ibunya.

Akhirnya 2 hari sebelum lebaran, tibalah saat yang ditunggu-tunggu, lahirlah seorang bayi perempuan ke dunia ini di pagi hari saat orang-orang menikmati sahur. Alhamdulillah ya Allah, terimaksih untuk semuanya atas doanya, semoga anak kami menjadi anak yang solihah.

Dua hari di rumah sakit ibu dan anaknya sudah boleh pulang dari tempat bersalin, dimulailah masa merawat bayi yang “mengasyikkan”

sebagai orang yang junior dan awam mengurus bayi tentu menjadi mas yang sangat sulit untuk menjalani, mandiin bayi aja masih takut-takut, eh mbahnya si kecil sudah harus pulang karena lebaran dan juga adik kami lagi sakit, jadilah kami berdua merawat bayi yang lucu itu.

Bisa dibayangkan betapa repotnya kami merawat bayi dengan “kebodohan” yang kami miliki memaksa untuk mandiri  mengurus keluarga ini. Mungkin kalo yang sudah punya anak bisa membayangkan kerepotan mengurus bayi ketika masih awam dengan hanya berdua saja, Ketika Orang lain sibuk dengan lebaran, kami tenang-tenang saja dirumah, nggak mikir bagaimana kondisi jalan macet ketika mudik dan arus balik. Tidak seperti di tempat lain, tempat kami justru sepi ketika lebaran, maklum lah pada mudik semua, jadilah lebaran kali ini terasa sepi tapi terasa bahagia dengan kehadiran si kecil,

semoga Yang Maha Kuasa pasti memberi petunjuk buat hambanya yang mau bersabar dan berusaha, amin.

Categories: anak-anak, kehidupan

Mengatasi Anak Manja

Jika anda terbiasa memenuhi apa yang diminta anak Anda, bisa jadi suatu hari anak Anda menjadi seorang yang tidak terbiasa untuk menerima kata “tidak”, baik dari Anda sebagai orang tuanya atau teman-teman yang bisa saja menjauhinya.

Inilah tanda Anda memanjakan anak Anda :

  • Ketika Anda menyediakan makan di meja, anak Anda tidak mau makan makanan yang sudah tersaji di meja. Anak Anda menginginkan makanan lain, dan Anda membuatkannya meskipun makanan yang ia minta tidak memiliki kecukupan nutrisi untuk perkembangannya. Menurut David Elkind, PhD, pimpinan Perkembangan Anak di universitas Tufts dan penulis buku The Hurried Child: Growing Up Too Fast Too Soon.

Elkind menambahkan, mungkin untuk sekali atau dua kali Anda bisa membuatkan sarapan kesukaannya. Namun jika Anda membuatkan makanan apa yang dimintanya setiap hari dan menolak memakan apa yang ada di meja makan, maka Anda telah memanjakan anak Anda untuk tidak menerima segala sesuatu apa adanya.

  • Luapan kemarahan memang biasa pada anak-anak, tapi jika pada anak 5 hingga 6 tahun melempar segala sesuatu yang ada di sekelilingnya karena tidak mendapatkan apa yang mereka mau, itu bukan merupakan hal yang wajar. “pada satu sisi, bisa jadi itu hanyalah caranya mengungkapkan perasaan, tetapi dengan anak diusia yang sudah cukup maka hal itu bisa jadi manipulasi,” jelas Elkind.
  • Anak Anda tidak mau tidur sendiri tanpa ditemani ayah atau ibunya, bahkan si anak tidak meu ditemani baby sitter atau nenek. Atau tidak mau pergi sekolah jika Anda sebagai orang tua tidak mengantar atau menjemputnya disekolah, ini adalah sebuah masalah. Elkind mengatakan, seorang anak yang sangat bergantung pada ibunya pada saat dewasa nanti dia tidak akan bisa belajar untuk merasa nyaman terhadap dirinya dengan orang lain.

Ada Jalan keluar yang dapat Anda lakukan, seperti :
Menetapkan batas aman anak Anda. Katakan kepada anak Anda, “Jangan sentuh ini”, dan “Jangan berlari di jalan raya.” Jangan lupa jelaskan alasannya mengapa Anda melakukan batasan tersebut dengan perlahan, sehingga ia bisa menerima penjelasan yang Anda berikan.
Katakan hal positif kepada anak Anda. Jangan sungkan dan merasa gengsi untuk katakan “tolong” dan “terima kasih” bahkan kata “maaf” sekalipun jika Anda melakukan kesalahan padanya.
Berbicara lebih terbuka kepada anak Anda. Jika Anda melihat ia seperti sedang menghadapi masalah, maka ajaklah ia untuk duduk bersama Anda dan bicarakan masalahnya lalu carikan solusinya. Jika si anak tetap diam dan tidak mau bercerita, katakan saja, “Ibu tahu apa yang sedang kamu hadapi.” pertanyaan-pertanyaan ’sok tahu’ Anda akan merangsangnya untuk berspekulasi dan membicarakan apa yang dia hadapi.
Tetap tenang. Jika Anda menghadapi kemarahan anak Anda dengan tempramen yang Anda miliki, masalah tidak akan selesai. Malah si anak akan merasa tidak nyaman dan menghindari Anda. Hadapi dnegan tenang dan lembut, sehingga anak Anda akan merasa ada perhatian dari Anda.

Sumber : Mediahidupsehat.com

Categories: anak-anak Tag:

Memilih Susu Untuk Anak

12/05/2008 santosinta 1 comment

HARGA mahal identik dengan kualitas tinggi. Demikian anggapan orang. Termasuk, memilih susu formula untuk si kecil.

Marzuki Iskandar STP MTP, ahli nutrisi dan makanan dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia, tak sependapat. Susu untuk anak tak harus selalu mahal. “Selama ini, orang tua masih price minded, acuan utamanya harga. Padahal, orang tua yang cerdas mampu menyesuaikan kebutuhan anak dan kondisi perekonomian,” katanya .

kualitas susu didasarkan pada komposisi zat gizinya. Untuk mengetahui, tinggal dilihat tabel informasi nilai gizi pada kemasan susu. Bandingkan label satu merek susu dengan yang lain untuk meyakinkan. Asal kebutuhan gizi dalam susu untuk anak terpenuhi, orang tua tak perlu risau menggunakan susu dengan harga lebih terjangkau.

Ada lima zat gizi yang bisa dipenuhi dari susu. Yaitu, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu, asupan gizi (termasuk susu) perlu dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan aktivitas harian anak.

Susu yang baik memiliki kandungan karbohidrat 150-200 kalori per saji. Jumlah tersebut menyumbang seperempat kebutuhan kalori sekali waktu makan. Kebutuhan protein si mungil masih bergantung pada susu. Sebab, minuman tersebut paling mudah dicerna. Sehari anak memerlukan 23 gram protein. Dengan minum susu tiga kali sehari, rata-rata nilai protein yang ideal untuk per takaran saji susu adalah 75 gram,” Delapan asam amino, termasuk protein, menunjang pembentukan neurotransmitter (zat hantar saraf) di otak. “Secara alami, susu segar sudah mengandung bahan tersebut. Pengolahan yang baik akan menjaga seluruh protein tersebut,”.

Yang juga membedakan anak dengan dewasa adalah kebutuhan lemak. Susu ikut menyuplai kebutuhan lemak anak. Lemak yang dibutuhkan, antara lain, omega-3, omega-6, DHA, AA, dan spingomielin. “Lemak berfungsi membantu pembentukan saraf otak,”.

Vitamin A, B kompleks, C, D, dan E seharusnya tertera pada label nilai gizi susu. Sebab, vitamin-vitamin tersebut dibutuhkan anak untuk membangun sistem kekebalan tubuh.

Kandungan mineral yang harus diperhatikan adalah kalsium, fosfor, dan magnesium. “Kalsium untuk pembentukan tulang, sedangkan fosfor menjadi pengikat kalsium dalam tubuh. Jadi, dua mineral ini tak boleh dipisahkan,”. Jika susu hanya mengandung kalsium, itu justru membahayakan. Kalsium bebas akan memengaruhi kerja jantung si kecil. Perbandingan kalsium dan fosfor setidaknya 1:1. “Akan lebih bagus jika jumlah fosfor lebih banyak dibanding kalsium,”.

Nah, besi dan magnesium diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Jika kekurangan, anak jadi lemah, letih, dan lesu. Besi sebenarnya juga terdapat dalam sayur dan olahan hewani. “Namun, penyerapan mineral susu lebih baik. Persentasenya, susu terserap 30 persen, sayur 10 persen, dan produk hewani 25 persen,”.

Sumber : Jawapos

Perlukah Anak SD Pake HP

HANDPHONE di tangan anak bisa bermanfaat untuk komunikasi. Namun sebaliknya, dapat juga menjadi bumerang perilaku menyimpang. Bagaimana sebaiknya?

Di zaman sekarang, siapa tak kenal telepon seluler alias handphone (HP). Tua-muda, di kota maupun di pedesaan, mayoritas sudah tidak asing dengan telepon tanpa kabel itu.

Teknologi ponsel juga kian melenakan konsumennya. HP tak lagi sekadar alat komunikasi, melainkan juga hiburan yang disajikan melalui berbagai fitur menarik seperti games, radio, kamera, video, hingga internet. HP berfitur minimalis pun biasanya dilengkapi fasilitas games.

Nah, selain ringtone bersuara unik dan casing yang lucu, aneka games inilah yang paling menarik perhatian anak-anak. Psikolog anak dari Universitas Indonesia Dra Mayke S Tedjasaputra Msi mengemukakan, pemberian HP pada anak harus melihat tujuan dan kepentingannya. Maksudnya, anak diberi HP untuk apa? Tidak dibenarkan membelikan HP kalau sekadar ikut-ikutan tren.

“Tapi kalau memang penting dan ada urgensi tertentu, orangtua boleh saja memberi HP, tapi beri tahu juga batasan-batasannya,” sebut psikolog yang juga play therapist ini. Untuk menghindari sikap pamer atau ajang saingan antar-teman, sebaiknya anak dibelikan HP dengan fitur sesuai fungsi dan kebutuhan. Ini kembali pada esensi atau tujuan utama pemberian HP pada anak, yakni untuk kepentingan komunikasi dengan orangtua.

Misalkan memudahkan komunikasi saat menjemput anak di sekolah. Apalagi saat ini anak-anak di perkotaan sering kali mengikuti banyak les. Kalau hanya sebatas kepentingan komunikasi, tidak perlu yang sangat canggih.

Dia menyarankan untuk tidak memberi HP yang banyak games-nya karena bisa jadi bumerang. Kalau anak sudah kecanduan, dia bisa sembunyi-sembunyi main game, bahkan saat di sekolah.

Dampak negatif lainnya, pada HP berfitur canggih yang dilengkapi internet memungkinkan anak tergoda mengakses gambar-gambar tidak senonoh, ataupun melakukan “kenakalan-kenakalan” yang sulit dikontrol, seperti menggunakan kamera HP untuk memotret orang-orang di toilet. Lebih parah lagi, mengedarkannya ke teman-teman.

Namun, jika suatu ketika orangtua mendapati SMS atau gambar porno di HP anaknya, jangan langsung memarahi, sebab anak akan kapok dan tidak mau bercerita lagi. Katakan dengan hati-hati bahwa itu adalah sesuatu yang tabu dan tidak dibenarkan.

Anak-anak usia SD menenteng HP ke sekolah bukan hal aneh lagi. Akibatnya, tidak mustahil konsentrasi anak terpecah saat belajar. Anak membawa HP ke sekolah, dikhawatirkan mereka akan bermain game, terutama untuk anak-anak yang perhatiannya mudah teralih atau untuk anak yang minat belajarnya rendah. “Sehingga, dia bisa larut keasyikan main game. Apalagi kalau peran guru juga kurang,” kata Dra Mayke S Tedjasaputra MSi.

Guna meminimalkan dampak negatif penggunaan HP, perlu kerja sama pihak sekolah agar proses belajar mengajar tidak terganggu. “Dalam aturan sekolah kami, siswa tidak boleh membawa HP, tapi nyatanya memang tetap ada saja anak yang membawa HP. Lalu kalau kami ketahui dia memakainya saat belajar, HP-nya kami ambil,”kata Kepala Sekolah SD Islam Al- Izhar Pondok Labu Sulaiman.

Menurut dia, aturan itu dibuat dengan pertimbangan agar anak tidak terganggu dan tidak sibuk dengan HPnya, paling tidak pada saat pelajaran berlangsung. “Ketika bel masuk pukul 07.15 sampai istirahat tidak ada lagi HP. Anak baru boleh menggunakannya lagi setelah bel pulang,” ujarnya.

Sumber : Okezone

Categories: anak-anak, info Tag:

Masalah Anak

Hari ini si kecil minta dibelikan sepeda seperti milik temannya, esok merengek ingin dibelikan mobil-mobilan, dan setiap kali habis melihat iklan makanan/minuman di teve, dia berujar, “Ma, aku mau beli yang kayak gitu, dong!” Pusing, kan?

Jelas, perilaku seperti itu tak baik bagi anak. Jika segala kehendaknya dituruti, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang amat konsumtif, manja, dan tak mengerti azas prioritas. Apa yang harus kita lakukan?

* Beri penjelasan
Jelaskan kepada mereka alasan Anda membeli suatu benda. Katakan pada anak, barang tersebut memang Anda perlukan, bukan karena Anda ingin pamer. Jangan takut untuk membicarakan mengenai uang. Bila Anda tidak mampu membelikan barang permintaannya, katakan dengan terus terang.

* Batasi teve
Batasi menonton teve. Pesan yang disampaikan oleh iklan sering menyesatkan cara berpikir anak-anak. Bantu anak Anda dalam mengartikan pesan yang disampaikan oleh iklan-iklan di televisi.

* Ajak Berkegiatan
Ajak anak menyukai hal-hal yang bukan berupa benda. Lakukan kegiatan yang melibatkan seluruh keluarga semisal naik sepeda, jalan pagi, main tenis atau scrabble. Lakukan kegiatan yang menggunakan pikiran dan semangat, tanpa perlu mengeluarkan biaya yang besar.

* Jauhi sifat konsumtif
Bila Anda tidak mampu, jangan memaksakan diri menyelenggarakan pesta ulang tahun yang mengeluarkan biaya besar. Buat persetujuan keluarga dalam menentukan biaya untuk membeli kado seperti kado ulang tahun, hadiah Lebaran atau Natal.

* Ajari mengatur uang
Beri anak uang saku dan bantu mereka mengatur keuangan. Berdasarkan hasil penelitian terhadap anak usia 9-14 tahun, terlihat, anak yang mendapat uang saku lebih dapat menghemat dari pada anak-anak yang tidak mendapatkan uang saku.

Tidak ada angka yang tepat, berapa jumlah yang harus diberikan, tetapi tujuannya adalah untuk tidak memenuhi segala sesuatu yang diinginkan oleh anak serta membuat anak mengerti bahwa mereka dapat menggunakan uang sakunya sendiri untuk membeli segala sesuatu yang diinginkannya. Hal ini membuat mereka mengerti bahwa benda tertentu mahal harganya dan tidak sanggup untuk mereka beli dan yang pasti mereka menjadi lebih dapat menghargai uang.

* Jangan dimanjakan
Jangan tunjukkan cinta melalui benda. Membiasakan memanjakan anak-anak dengan benda, hanya akan membentuk anak menjadi konsumtif. Yakinkan anak bahwa mereka dicintai sebagaimana apa adanya mereka.

Sumber : kompas.com

Categories: anak-anak Tag:

Mendongeng

ORANGTUA yang mendongeng kepada anak-anaknya sudah menjadi hal langka. Bagaimana dengan Anda?

Dengan mendongeng bisa membuat anak berpikir lebih baik, meningkatkan kreativitas dan daya ingat anak. Bisa juga memicu anak mulai belajar membaca.

Bagi ayah dan ibu yang sibuk dalam menjalankan pekerjaan, untuk bertemu si kecil di sore hari saja sulit. Apalagi untuk memenuhi ritual menemani dan mendongeng pada anak sebelum tidur.

Mendongeng bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, dan ternyata manfaat untuk anak dari mendongeng yang dilakukan oleh orangtua. “Dongeng adalah sebuah sastra lisan pada masa lalu yang mendapatkan tempat di hati anak-anak,” tutur Ketua Umum Lembaga Pelestarian Dongeng Indonesia, Kusumo Priyono Ars.

Psikolog Anak Rumah Sakit Pluit, Rosdiana Tarigan, MPsi, MHPEd mengatakan, mendongeng adalah kegiatan yang biasanya dilakukan oleh orangtua atau guru. Menceritakan tentang kisah yang tidak nyata atau kisah tradisional dari cerita rakyat atau kisah yang modern.

Dia menuturkan, dalam masa anak bawah lima tahun (balita), dengan mendengarkan dongeng bisa memicu anak agar lebih pandai berpikir dan meningkatkan kreativitas serta daya ingat anak. Juga bisa memicu anak untuk belajar membaca.

Hal senada disampaikan pengarang buku cerita anak Kusumo Priyono. Dia mengatakan bahwa manfaat mendongeng adalah mengajarkan anak agar bersifat kritis. Anak juga bisa memilih cerita baik dan cerita yang tidak baik. “Jadi jika cerita itu baik, akan diikuti olehnya,” ungkap Priyono yang juga dijuluki sebagai Raja Dongeng Indonesia.

Priyono memaparkan, dalam dongeng terkandung nilai moral dan budi pekerti yang bisa dipetik oleh anak sebagai sarana untuk mengembangkan daya kritis anak. “Anak juga bisa berjiwa besar dari mendengarkan dongeng, walaupun dongeng itu penuh khayalan,” tambahnya.

Dengan mendongeng, lanjut Priyono, banyak yang bisa disampaikan. Orangtua bisa berkomunikasi dua arah dengan anak. Tidak hanya menghibur, tetapi mempunyai tujuan-tujuan yang akan disampaikan menurut ceritanya. Misalnya, dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih yang mempunyai pesan moral tidak boleh serakah dan tidak boleh iri kepada orang lain.

Dongeng yang baik adalah cerita yang bisa memberikan banyak manfaat pada anak. Rosdiana menuturkan, kriterianya yaitu memiliki unsur mendidik, bahasa yang baik dan mudah dimengerti, kaya kosakata dengan intonasi yang benar, tidak mengandung unsur seksual, mistik, dan kekerasan.

“Dongeng yang baik untuk anak-anak sangat bagus untuk perkembangan anak,” ujarnya.

Tidak hanya terbatas di rumah. Mendongeng juga bisa dilakukan oleh guru di sekolah. Menurut Priyono, dengan mendongeng bisa terbina hubungan kasih sayang, timbul rasa hormat antara anak pada orang yang lebih tua.

Dia berpesan, para orangtua hendaknya meluangkan waktu untuk mendongeng yang bisa menanamkan nilai cinta bangsa dan tanah air. “Yang perlu diingat adalah tanamkan dongeng sejak dini karena mendongeng adalah mendidik dan mengajari seorang anak tanpa memberi kesan menggurui,” pesannya.

Salah seorang guru sekolah taman kanak-kanak, Ibu Ayu Siti Nuraini berpendapat, antusiasme dari anak adalah kepuasan bagi guru dalam memberikan cerita pada anak. Selain itu, dia mengaku sangat menyukai tanggapan anak-anak yang murni dan polos.

“Mendongeng adalah suatu kegiatan yang menyenangkan karena bisa mengembangkan daya imajinasi anak-anak, dan membuat anak lebih kreatif,” ujarnya.

Sumber : Okezone.com

Categories: anak-anak

Minta Maaf pada Anak

Menjadi orangtua bukan berarti selalu benar dalam bersikap. Tak jarang, orangtua juga melakukan kesalahan pada anak, sehingga membuat hubungan terganggu. Inilah cara meminta maaf pada anak tanpa membuat Anda harus kehilangan wibawa di depannya.
1. Mengaku bersalah
Sadari bahwa Anda telah membuat kesalahan, dan akui itu padanya. Inilah salah satu faktor penting dalam meminta maaf. Tak jarang ini sulit dilakukan, karena orangtua merasa gengsi. Lupakan gengsi, kalau memang tak ingin masalah terus berlarut.

2. Tulus
Ketika meminta maaf, Anda harus tulus. Anak akan gampang mengetahui ketika Anda membohonginya tentang hal ini.

3. Tenang
Meminta maaf dalam keadaan emosi akan percuma. Kalau Anda belum bisa bersikap tenang, katakan padanya bahwa Anda butuh waktu untuk sendiri, sebelum melanjutkan pembicaraan dengannya. Kemudian, pikirkan apa yang terjadi dan apa penyebabnya agar pikiran jadi tenang.

4. Tepat sasaran
Katakan permintaan maaf Anda secara langsung dan dalam kalimat yang tidak berbelit-belit. Ingat, yang dimintakan maaf adalah sikap Anda yang baru saja terjadi, bukan kepribadian Anda. Misalnya, mintalah maaf atas kemarahan dan ucapan Anda yang kasar, bukan atas kepribadian Anda yang emosional.

5. Jangan menyalahkan
Jangan balik menyalahkan anak hanya untuk membenarkan sikap Anda. Misalnya, dengan mengatakan bahwa seandainya ia tidak malas, Anda tidak akan marah terus padanya. Ini sama saja Anda tidak meminta maaf, melainkan justru menyalahkannya.

6. Meminta maaf
Mengatakan bahwa Anda bersalah dan bertanya apakah ia mau memaafkannya akan mempermudah Anda mengungkapkan penyesalan, sekaligus membuat anak belajar memahami cara memperbaiki hubungan.

7. Evaluasi
Bersama anak, lihat kembali bagaimana Anda bisa menyelesaikan masalah itu dengan baik, dan sepakati cara yang akan dilakukan bila masalah yang sama terjadi lagi nanti.

8. Lupakan
Bagaimanapun juga, Anda hanya seorang manusia, yang tentu tidak sempurna dan bisa berbuat salah. Namun, jangan terus berkutat pada rasa bersalah Anda. Setelah meminta maaf, lupakan masalah tersebut dan berusahalah untuk tidak mengulanginya lagi, sama seperti ketika Anda memintanya tidak mengulang kesalahan.

9. Jangan berlebihan
Berlebihan dan selalu meminta maaf, bahkan untuk hal-hal yang sangat sepele, justru akan membuat Anda kehilangan wibawa. Mintalah maaf karena Anda memang bersalah, bukan karena Anda berusaha menerapkan disiplin atau hukuman yang terbilang wajar, atas kesalahannya

Sumber : Kompas.com

Categories: anak-anak Tag:

Buang Angin

KENTUT memang bukan sembarang angin. Semua orang pasti mengalaminya, sejak kanak-kanak sampai dewasa. Kentut sebenarnya merupakan pengeluaran gas yang berlebihan dari dalam usus melalui anus, dan umumnya menjelang buang air besar (BAB).

Banyak faktor yang menentukan frekuensi maupun volume kentut seseorang. Di antaranya pola makan dan obat-obatan tertentu, jenis antibiotik. Perihal berapa kali seorang anak kentut dalam sehari memang belum terdata. Namun frekuensi buang angin sekitar 14 kali dalam sehari masih dianggap normal. Sedangkan volume angin yang diproduksi setiap individu dalam kondisi normal diperkirakan bervariasi antara 4001.600 ml per hari.

Dari usus

Bagaimana kentut terjadi? Seperti kita ketahui, proses pencernaan dan penyerapan makanan terjadi dalam usus halus. Makanan yang tidak bisa dicerna dan diserap tubuh akan dibuang ke usus besar (kolon). Sisa-sisa makanan yang ada dalam usus besar ini merupakan makanan bagi bakteri penghuni usus. Di dalam usus besar ini pula terjadi proses fermentasi yang antara lain membentuk sejumlah gas.

Mengacu pada proses tersebut, bisa dimaklumi bila jenis makanan yang dikonsumsi menentukan produksi gas dalam usus. Semakin banyak seseorang mengonsumsi jenis makanan yang tidak dapat dicerna, semakin meningkat pula proses fermentasi oleh bakteri. Akibatnya, produksi gas pun mengalami peningkatan. Jenis gas yang diproduksi dalam usus antara lain karbondioksida (CO2), hidrogen (H2) dan metan. Kendati ada pula sumber gas dalam usus yang berasal dari udara luar, seperti nitrogen (N2) dan oksigen (O2). Udara luar ini dapat ikut tertelan akibat aktivitas makan yang tidak benar. Yakni kebiasaan mengunyah permen karet, pemasangan gigi palsu yang kurang tepat, dan sebagainya.

Aroma tak sedap

Pada dasarnya tidak semua kentut mengeluarkan bau tak sedap. Angin yang satu ini bisa menjadi bau akibat adanya proses pembusukan oleh metabolisme bakteri di usus besar. Bau tak sedap yang mungkin timbul bisa juga berupa bau asam akibat mengonsumsi makanan yang tidak sesuai kemampuan organ pencernaannya. Selain itu, makanan berbau tajam, seperti petai, durian nangka dan cempedak juga dapat menyebabkan kentut berbau.

Kentut yang tidak berbau lazimnya terdiri atas 5 komponen gas, yakni gas nitrogen, oksigen, hidrogen, metan dan karbondioksida. Kelima gas inilah yang merupakan porsi terbesar dalam kentut. Sedangkan kentut yang bau umumnya merupakan campuran gas-gas yang berbau, seperti skatol, indol, hidrogen sulfida, dan asam lemak rantai pendek. Gas-gas ini walaupun terdapat dalam jumlah kecil mampu menimbulkan bau yang menusuk hidung.

Kalau keseringan

Jika anak keseringan kentut, kemungkinan inilah penyebabnya:

* Mengalami intoleransi laktosa (tidak dapat mencerna laktosa yang terkandung dalam susu) yang mengakibatkan produksi gas jadi berlebihan. Hal ini biasanya disertai dengan keluhan sakit perut. Solusinya, hindari bahan makanan yang mengandung susu/laktosa.

* Kesalahan dalam pemberian makan. Maksudnya, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang tak dapat dicerna secara tuntas oleh usus. Akibatnya, banyak sisa makanan yang dihasilkan, seperti selulosa (serat), stakiosa, dan rafinosa. Selulosa merupakan dinding sel tumbuh-tumbuhan yang banyak terdapat pada bahan makanan yang berasal dari sayuran. Sedangkan stakiosa dan rafiosa banyak terdapat pada kacang merah. Semakin banyak makanan mengandung bahan yang tidak dapat dicerna usus, semakin banyak juga gas yang diproduksi akibat peningkatan fermentasi oleh bakteri.

* Menangis berlebihan. Saat menangis ada kemungkinan udara ikut masuk melalui mulut. Karenanya, menangis yang berle-bihan juga dapat menyebabkan anak sering kentut.

* Pemberian antibiotik yang tidak tepat/berlebihan.Akibatnya flora normal usus akan mati yang mengakibatkan pertumbuhan kuman patogen dan fermentasi makanan oleh bakteri yang berlebihan.

* Bakteri yang tumbuh berlebihan dalam usus. Ini kerap terjadi pada kasus-kasus diare kronik yang disebabkan oleh parasit jenis tertentu.

* Pengeluaran gas dari darah yang dikenal dengan istilah difusi. Selama proses difusi ini gas tertentu seperti CO2 dikeluarkan ke lambung, N2 ke usus halus dan usus besar, O2 ke usus besar. Adanya tambahan gas dari peredaran darah ke dalam usus ini dapat meningkatkan jumlah gas dalam usus yang kemudian dikeluarkan sebagai kentut.

Untuk mengurangi frekuensi kentut yang berlebihan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan. Pertama, kenali atau cari tahu penyebabnya. Langkah selanjutnya tentu saja dengan menghindari penyebab tersebut. Bila akibat pola makan yang salah, seperti terlalu banyak mengonsumsi serat, mau tidak mau kurangi saja jumlah serat yang dikonsumsi. Demikian pula bagi anak yang memang intoleransi terhadap laktosa. Sebaiknya hindari susu dan produk olahannya. Sebagai penggantinya, yang bersangkutan bisa mengonsumsi yoghurt. Akan tetapi bila penyebabnya sudah dihindari dan frekuensi kentut dirasa masih berlebihan, tak ada cara lain kecuali berkonsultasi dengan dokter. Dokter biasanya akan meresepkan obat yang dapat menyerap kelebihan gas di usus. Tentu saja pemakaiannya harus seizin dokter atau mencari penyebab lainnya.

Sumber : Kompas.com

Categories: anak-anak Tag:

tes darah untuk anak

untuk diagnosis penyakit-penyakit umum semisal batuk pilek memang tak memerlukan pemeriksaan darah. Kecuali bila dokter mencurigai ada penyakit/gangguan tertentu yang “terbaca” lewat gejala-gejala lain. Selain batuk pilek, contohnya, anak terlihat amat pucat atau mengalami demam disertai mimisan yang cukup banyak dan terjadi hampir terus-menerus. Menghadapi kasus seperti ini, tentu patut dicek apakah ada gangguan pembekuan darah atau gangguan serius lainnya.

Bila gejala menunjukkan penyakit tertentu, namun hasil tes darah menunjukkan penyakit yang berbeda, amat dianjurkan untuk dilakukan observasi ataupun pengulangan pemeriksaan darah beberapa hari kemudian untuk kepastian lebih lanjut.

MANFAAT TES DARAH:

* Memastikan penyakit,

* Menegakkan atau bahkan “menggugurkan” diagnosis awal.

* Memonitor “perkembangan” penyakit yang sudah terdeteksi.

* Memastikan sudah seberapa jauh suatu penyakit mengganggu fungsi ginjal dan organ-organ penting lainnya.

* Mengetahui bagaimana kondisi ginjal dan hati pasien guna “menghitung” obat apa saja dan seberapa dosis yang bisa diberikan.

* Bagi pasien yang hendak menjalani operasi, pemeriksaan darah merupakan persyaratan medis untuk mengetahui bagaimana fungsi pembekuan darah dalam tubuh pasien. Kadar hemoglobin (Hb), contohnya, tidak boleh kurang dari 10 g/dl. Bila kadar Hb jauh dari angka normal, dikhawatirkan pembiusan yang akan dijalankan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, semisal kekurangan oksigen yang bisa berakibat fatal.

* Dari pemeriksaan darah, fungsi pembekuan darah pasien juga bisa diketahui apakah baik atau tidak. Fungsi pembekuan darah yang kurang baik tentu akan menyulitkan jalannya operasi.

LOKASI PENGAMBILAN CONTOH DARAH

Metode pengambilan darah lazimnya akan disesuaikan dengan kebutuhan pengambilan darah itu sendiri; apakah kadar hemoglobin, faktor pembekuan darah, trombosit, dan sebagainya. Berdasarkan lokasinya, ada beberapa metode pemeriksaan darah terhadap pasien, di antaranya:

* Sample darah pasien diambil lewat pembuluh darah vena di lengan. Ini proses pengambilan contoh darah yang paling umum dilakukan dan hasilnya diyakini paling akurat.

* Contoh darah diambil di bagian ujung jari tangan. Hasilnya juga cukup akurat, khususnya bila dilakukan hanya untuk mengetahui kadar gula darah dalam tubuh. Proses pengambilannya cukup dengan menusukkan jarum disertai bantuan berupa pemencetan secara perlahan-lahan agar darah keluar segera. Sayangnya, kadar oksigen di ujung jari berbeda dengan kadar oksigen dalam pembuluh darah vena, sehingga kadang membuat hasilnya “berbeda”.

* Contoh darah diambil pada bagian daun telinga. Ini dilakukan terutama untuk mengetahui faktor pembekuan darah.

SEBERAPA BANYAK?

Seberapa banyak sih darah yang diambil? Tentu berbeda tergantung pada tujuan pemeriksaan itu sendiri. Bila hanya untuk mengetahui kadar hemoglobin, maka contoh darah yang dibutuhkan relatif sedikit, hanya sebanyak 2 mg/dl. Akan tetapi bila poin-poin yang hendak diperiksa jauh lebih banyak dan lebih lengkap, misalnya ingin mengetahui fungsi hati atau fungsi ginjal, maka contoh darah yang perlu diambil sebanyak 5-10 mg/dl.

BERAPA LAMA HASILNYA?

Mengenai kapan hasilnya bisa diketahui, tentu beragam pula. Untuk pemeriksaan sederhana, semisal kadar hemoglobin, leukosit atau trombosit, cukup menunggu beberapa jam. Namun bila pemeriksaan lengkap, kemungkinan besar hasilnya baru bisa diketahui keesokan hari. Contohnya, pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi hati, ginjal dan sebagainya. Sedangkan untuk pemeriksaan kultur darah bukan tidak mungkin malah membutuhkan waktu lebih lama, kira-kira seminggu. Contohnya, untuk mencari tahu kuman jenis apa yang menyebabkan demam pasien tak kunjung reda, sekaligus untuk mengetahui kuman tersebut sensitif atau resisten terhadap obat apa saja. Jadi, orangtua mesti menanyakan kepada petugas laboratorium kapan hasil pemeriksaan darah selesai.

PERLU PERSIAPAN TERTENTU?

Persiapan khusus menghadapi pemeriksaan darah sebenarnya tak ada. Kecuali bila yang mau diperiksa adalah kadar gula darah, yang mengharuskan pasien puasa lebih dulu selama sekian jam. Begitu juga untuk memeriksa kadar kolestrol. Namun, pemeriksaan jenis ini jarang dilakukan pada anak-anak.

Yang pasti, dokter yang merekomendasikan pemeriksaan darah pasien sebaiknya menjelaskan pada keluarga pasien untuk apa pemeriksaan darah itu dilakukan. Selain penjelasan apakah harus segera dilaksanakan atau bisa ditunda 2-3 hari kemudian sambil mengikuti perkembangan kondisi pasien. Misalnya, terhadap anak yang mengalami demam tinggi. Kalau dalam 1-2 hari setelah mendapat obat tertentu, demam tak kunjung reda, sebaiknya segera periksakan darahnya.

Adapun kendala yang paling sering ditemui ketika pasien anak harus menjalani pemeriksaan darah adalah bagaimana caranya membujuk mereka agar kooperatif. Bisa dimaklumi bila anak umumnya takut melihat jarum suntik. Belum lagi ketika tahu betapa sakitnya ditusuk jarum yang agak besar karena darah yang diambil cukup banyak lantaran ada banyak aspek yang ingin diketahui lewat pemeriksaan tersebut.

Masalahnya, tidak sedikit pula orangtua yang juga “takut” melihat jarum suntik ataupun keluarnya darah. Padahal sebelum dan selama pengambilan darah sebaiknya tetap ada pendampingan dari orang yang memiliki kedekatan emosional dengan anak, apakah ayah, ibu atau anggota keluarga lainnya.

Pendampingan ini amat perlu untuk meminimalkan ketegangan anak menghadapi proses yang menakutkan itu, disamping suasana dan petugas medis yang merupakan sosok asing baginya.

Pendampingan tersebut bisa dilakukan dengan sekadar menemani, memangku, memeluk atau meyakinkan bahwa proses pengambilan darah itu penting agar penyebab penyakitnya se-gera ketahuan dan ia bisa cepat sembuh. Yang pasti, jangan pernah membohongi anak dengan mengatakan tak sakit. Lebih baik katakan sakit sedikit seperti dicubit, namun cuma sebentar. Intinya, anak perlu diberi tahu sebelum proses pengambilan contoh darah dimulai. Di usia sekolah dasar, anak pastilah sudah bisa menangkap penjelasan hingga bisa diajak bersikap kooperatif.

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah keingintahuan yang mendalam dari pihak orangtua untuk mengetahui apa tujuan pemeriksaan tersebut pada dokter yang merekomendasikan. Begitu juga setelah mendapatkan hasilnya, jangan lupa untuk menanyakan bagaimana kondisi penyakit anak, tindakan medis apa yang akan dilakukan dokter selanjutnya dengan membaca hasil lab tadi dan sebagainya. Dengan demikian, kurang bijak bila orangtua bersikap “sok tahu” dengan menafsirkan sendiri hasil tes yang didapat.

Sumber : Kompas.com

Categories: anak-anak Tag: