Surabaya

Tak terasa sudah hampir 6 tahun saya tinggal di surabaya, sejak pindah dari balikpapan, berarti surabaya merupakan kota ke empat bagi saya sebagai tempat tinggal. Kota pertama tentu saja kota kelahiran saya Temanggung yang kemudian masa kuliah memaksa saya harus hijrah ke jakarta dan ketika pertama kerja saya harus ke balikpapan dan akhirnya pindah ke surabaya.

Mungkin itu lah makanya saya bisa merasakan bagaimana rasanya tinggal di kota kecil, di kota metropolitan, di kota sedang maupun kota besar, sehingga saya bisa membandingkan diantara beberapa kota tersebut.

Pertama kali saya tinggal di Surabaya yang saya rasakan adalah bagaimana tipikal warga surabaya yang apa adanya dan to the point. Sebenarnya saya agak kaget juga waktu itu, ketika ada orang yang tanpa sungkan-sungkan untuk bilang kalau itu baik atau jelek. kalau saya kan dari orang jawa tengah sekali kalau mau mengatakan seseorang apalagi langsung kepada orangnya, baik itu saran maupun kritikan, baik itu kritik yang membangun ataupun kritik yang menyakitkan.

Memang mungkin itu yang rasanya culture shock, seakan-akan bingung, koq orang ini begini sih, koq orang itu begitu sih, aneh pikir saya waktu itu. Tapi seiring berjalannya waktu lama-lama saya jadi tau dan memahami kalau memang tipikal orang surabaya seperti itu.

Ada segi positif yang saya tangkap dari tipikal seperti itu. Jadi ketika ada warga yang kritis dan tajam berpendapat, karena memang tipikalnya seperti itu, jadi bisa langsung juga di tindak lanjuti oleh pejabat yang mendapat kritikan seperti itu, kalau tidak ada tindak lanjut yang cepat ya pastinya akan ada kritikan lanjutan yang lebih pedas lagi tentunya.

Contoh saja ada jalanan yang rusak, ketika banyak warga yang mengeluh dan mengutarakan pendapatnya akan segera direspon oleh media dan akhrnya di dengar oleh pejabat bersangkutan dan terjadilah action yang memuaskan warga. Memang bagusnya kota besar seperti surabaya yang seakan-akan mempunyai media sendiri seperti jawa pos, surya, radar surabaya, dan lainnya membuat kehidupan berpendapat menjadi lebih maju.

Ada lagi yang berkesan menurut saya dalam hal berlalu lintas. Memang kalau dibandingkan dengan jakarta, walaupun jakarta lebih macet tetapi perilaku tertib masih menang jakarta. Kalau di surabaya kalau sudah macet bisa tambah parah dengan keberanian orang-orang dalam mengambil jalan atau membuat jalan yang semula 2 jalur bisa menjadi 3 jalur atau bahkan 4 jalur, dengan cueknya ambil jalan walaupun hasilnya bisa tambah macet.

Lain lagi dengan sepeda motor, yang luar biasa, rupanya senggolan antar sepeda motor itu hal yang biasa. Saya pernah beberapa kali tersenggol setang sepeda motor saya tapi untungnya tidak sampai jatuh walaupun pernah tersenggol cukup keras. Dan apa yang terjadi dengan si penyenggol, cukup menengok saja kalau si “korban” nggak jatuh ya cuek saja seperti tidak terjadi apa-apa.

Itu mungkin belum seberapa, saya pernah berhenti di lampu merah, karena merah tentu saja saya berhenti. Rupanya dari belakang ada sepeda motor yang nggak sabar dan menyerobot lampu merah. Dari arah kiri karena itu perempatan tentunya kan lampu hijau dari arah lain. Terjadilah senggolan yang cukup parah, salah satu dari sepeda motor terjatuh. Dari pihak sepeda motor yang tidak jatuh memang berhenti, namun hanya dilihat saja ketika sepeda motor yang jatuh bisa bangun lagi dan bisa meneruskan perjalanan ya sudah masing-masing jalan lagi seperti tidak terjadi apa- apa lagi.

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s